3 Fase Hidup, Akhirnya Menjadi Ibu

3 Fase Hidup, Akhirnya Menjadi Ibu

Fase hidup berubah dari seorang single lalu menjadi istri dan kemudian menjadi seorang ibu tak pernah kubilang itu mudah apalagi sederhana. Bagaimana detail perbedaannya aku coba ulas di curhatan ibunTiti ini.

 

1. Fase Hidup Menjadi Seorang Single (1991-2019)

Menjadi seorang single memang terdengar begitu menyedihkan apalagi single 29 tahun macam aku kemarin. Dari mulai malu-malu setiap ditanya pacarnya mana, sampai berubah jadi marah lalu berakhir bodo amat. 

Benar sekali yang kerap membuat situasi single menjadi kurang menyenangkan adalah mulut orang-orang tak berprike-single-an. Padahal kalau saya boleh jujur, jadi single tak pernah semenyedihkan itu. In my opinion, jauh lebih sedih mama-mama mudah yang mengeluh bilang, “Ah, lo mah enak bisa kesana-sini sesuka hati. Bisa kejar karir dan kejar mimpi.”

Fase Hidup, Akhirnya Menjadi Ibu

Mama muda yang menyesali langkah cepat yang dia pilih adalah hal paling menyedihkan kalo menurutku ya. Sebenarnya nggak cuma yang nikah muda sih, beberapa yang nikah sudah cukup usia juga banyak yang mengeluhkan hal yang sama. Menurut aku, saat kalian single alih-alih meratapi nasib sambil bengong kira-kira jodoh gw di mana, mending kalian selesaikan urusan kalian sama diri kalian sendiri dulu deh.

Ada satu, dua, tiga atau bahkan seratus urusan yang akan jadi agak lebih sulit kalian selesaikan saat kalian tidak lagi menjadi single.

2. Fase Hidup Menjadi seorang Istrinya Arsyad  (2019-akhir hayat, Aamiin)

Ini mengejutkan, mengingat prosesnya dari single menjadi istri juga tidak kalah mengejutkan. Dari yang terbiasa apa-apa sendiri, terbiasa hanya mengandalkan diri sendiri dan Allah dari terbiasa menyimpan luka sendiri sampai akhirnya harus belajar berbagi dan percaya pada pribadi lain.

Kalau perkara masak tiap pagi, ini sama sekali nggak bikin kaget. Karena dari sebelum nikah juga udah begini. Yang agak kaget adalah untuk beberapa perkara, seperti harus belajar meminta tolong gantikan gas padahal bisa sendiri. Harus belajar minta tolong angkat galon, padahal bisa sendiri dan banyak hal lucu lain. Tapi yang paling menyenangkan adalah ada yang dengan sabar mengusap air mata saat aku akhirnya bercerita tentang beban yang kadang membuatku ingin menyerah saja.

Fase Hidup, Akhirnya Menjadi Ibu

Rasanya menyenangkan saat setiap berdoa aku tak perlu lagi menerka-nerka siapa jodoh yang Allah tuliskan di lauhul mahfuz-Nya. 

 

3. Fase Hidup Menjadi seorang Ibu (2021-akhir hayat)

Ini adalah paling turning point dalam hidup aku, sudah tidak ada lagi aku dan mauku, aku dan egoku atau aku dan ideologiku. Semua ke-aku-an sudah selesai!

Apa aku meratapi hal ini? 

Jujur, alhamdulillah sama sekali nggak!

Fase Hidup, Akhirnya Menjadi Ibu

Aku merasa sudah selesai dengan aku dan diriku, walaupun memang ada beberapa mimpi masih kubiarkan menggantung. Paling tidak, aku sudah menyelesaikan lebih dari 90% project aku dan diriku. Aku sudah tidak lagi “penasaran”. 

Aku sekarang benar-benar merasa amat sangat bersyukur karena Allah mejadikan aku istri di usia 29 tahun dan baru menjadi ibu di usia 30 tahun. Ini adalah waktu dan dengan siapa yang paling tepat. 

Nggak kebayang kalau Allah mengabulkan mauku untuk menikah di usia 23 tahun. Atau Allah mengabulkan doaku untuk menikah dengan orang yang bukan Arsyad. Aku yakin, semuanya nggak akan sebaik-baik saja ini.

 

Dari semua fase hidup tentang akhirnya menjadi Ibu ini, aku belajar tentang, “Hei anak muda jangan kamu terlalu terburu-buru! Semua ada waktunya, jadi nikmati!”.

Sifat dasar manusia-manusia di negara ini memang begitu, senang sekali komentar hidup orang lain. Perkara yang single ditanya kapan nikah, yang udah nikah ditanya kapan punya anak, yang punya anak satu juga masih ditanya kapan nambah anak?

Tapi, percaya deh di fase mana pun kalian sekarang berada yang bertanggung jawab atas apa pilihan hidup yang kalian ambil hanya lah diri kalian sendiri bukan mereka dan komentar-komentarnya.

Bukan mengajarkan untuk acuh, hanya saja aku mau mengingatkan tentang bersyukur atas apa yang kita raih dan jalani hari ini adalah cara paling mudah untuk berbahagia. Berhenti membuat standar bahagia kita dari senyuman orang lain, nanti kamu lelah.

Aku sekarang 32 tahun, seorang istri dan juga seorang ibu. Aku bahagia dengan peranku yang aku tahu tak akan mudah. Aku percaya aku ada di sini karena aku mampu. Takdir Allah tak akan pernah meleset apalagi salah tempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *