Pengalaman Lahiran SC Metode ERACS di RS Hermina Serpong

Pengalaman Lahiran SC Metode ERACS di RS Hermina Serpong

Untuk sebagian ibu yang mungkin membaca tulisan ini akan merasa aku berlebihan. Mungkin untuk beberapa ibu, aku seperti pemain pentas yang terlalu berdrama, padahal di mata mereka ini hal biasa, wajar. Hanya bagiku, ini begitu membekas dan begitu berharga jika tak aku abadikan dalam tulisan ini. Bukan aku tak peduli pada kata kalian, tapi biarkan aku meromantisasi proses hidup yang kalian sebut alamiah dan wajar saja ini.

Pertama aku menyadari dan tahu dengan ilmu bahwa ada janin yang akan berjuang bersamaku Sembilan bulan, atau bahkan lebih Bersama ku rasanya begitu istimewa. Perasaan pernah kehilangan sebelumnya cukup menganggu percaya diri dalam diriku. Apakah aku mampu merawatnya dengan baik dalam rahimku sampai nanti ia siap berada di pelukanku?

Rasanya mengagumkan, ada calon manusia lain yang jantungnya hari perhari mulai berdetak Bersama jantungku. Rasanya begitu syahdu saat sadar aku kan berganti peran dari sekedar istri menjadi seorang ibu. Semua yang mungkin aku mampu persiapkan dengan baik aku upayakan semampu kami. Iya kami, karena ada seorang calon ayah juga yang begitu mencintai si janin di Rahim ini.

Aku tak pernah begitu peduli kepada manusia lain sepeduli aku kepada si janin di Rahim ini. Setiap detik yang mampu aku lewati, ku nikmati dengan segenap rasa syukur dan khawatir yang selalu kubalut doa tanpa henti. Rasanya menenangkan saat aku mampu bercerita apa saja kepada manusia yang selalu bersamaku pada tiap hembus nafas 41 minggu itu.

Pengalaman Lahiran SC Metode ERACS di RS Hermina Serpong 1

Tendangan pertama di perut tak akan pernah sekalipun bisa aku hilangkan dari memori di kepalaku.

“Nak, tumbuh sehat ya di dalam. Ibun dan ayah akan selalu berdoa segala hal baik untuk kamu, untuk kita.”

Pengalaman Lahiran SC Metode ERACS di RS Hermina Serpong

Kalian tahu? Aku merasa begitu beruntung menjadi istri yang selalu di jaga dengan sangat oleh suami yang menikahi ku tepat hanya 6 bulan setelah kami saling kenal. Di sini juga aku tersadar segala yang kita pasrahkan kepada Sang Sebaik-baik Pemilih tak akan pernah salah pilih.

Masa-masa mengandung menjadi masa begitu penuh keajaiban dalam hidupku.

Pengalaman Lahiran SC Metode ERACS di RS Hermina Serpong

Aku banyak berubah, dari yang paling tak punya rasa menjadi yang paling perasa. Dari yang 57kg menjadi si 85kg. Dari yang kusam berjerawat jadi si paling kinclong. Dari yang paling kulit badak jadi yang tiba-tiba sensitive dan bisa sewaktu-waktu gatal sekujur badan. Dari yang bisa pakai sabun batang 5000 jadi si paling super sensitive mesti beli sabun mahal.

Aku banyak berubah, dari yang pemakan segala jadi si paling nggak bisa makan makanan yang nggak pas di lidah. Aku banyak sekali berubah. Aku tak pernah menjadi aku yang begini sebelumnya. Ini begitu berbeda.

Perutku begitu besar, sangat besar. Tidurku susah, kadang nafasku sesak. Jalanku oleng, pelan-pelan nggak bisa sat-set. Entah sudah berapa lama aku lupa bentuk kakiku, susah dilihat tertutup perut besarku. Badanku membesar, semua baju jadi nggak muat. Yang paling aneh kakiku jadi besar banget, sampe bingung mesti pakai alas kaki yang bagaimana. Selalu bingung banget setiap harus temani suami ke nikahan temannya.

Setiap aku rasakan dia di dalam sana bergerak, ada haru dan Bahagia yang tak pernah bisa terlukiskan, mengagumkan.

Aku persiapkan semua hal-hal terbaik yang mampu kusiapkan. Aku sewa baby plus, yang katanya bisa bikin anak pintar dari dalam perut. Aku pakai tanpa bolos sesuai jadwal. Eh iya mungkin beberapa kalian nggak tahu ya? Itu kayak alat yang bunyi gitu buat baby dengerin dari dalam perut. Iramanya, dug-dug-dug kaya bunyi detak jantung tapi makin tua usia kehamilan jadi makin cepat ritmenya.

Ada lagi, aku ikut banyak sekali kelas online dan offline supaya memperlancar proses persalinanku. Aku juga baca berbagai buku gentle birth. Bahkan suamiku pun aku paksa ikut belajar agar bisa jadi pendamping persalinan yang baik juga. Aku rutin ikut yoga hamil, tiap pagi kusempatkan berjemur di sela-sela jam kerja. Sampai aku izin juga ke atasan aku untuk ini.

Setiap weekend ku ajak suamiku jalan-jalan, kadang muter komplek tapi lebih sering muter emoll, hhe. Pokoknya aku banyak gerak supaya gampang nanti lahirannya. Aku juga semangat ngepel jongkok di trimester akhir. Segala daya upaya aku usahakan. Aku juga ikut beberapa kelas nafas, kata bu bidan lahiran yang Bahagia itu kuncinya nafas.

Segala daya upaya kulakukan, cita-citaku lahiran pervagina dengan metode gentle birth di bidan yang full ditemani suami tercinta. Iya ini adalah cita-cita, rencana A yang aku buat sebagai manusia yang boleh donk berusaha dan disertai doa.

Lalu, datang lah minggu ke-40 kehamilan. Hari-hari yang harusnya aku merasakan kontraksi, mules dan waktunya anak di Rahim ini berpindah ke pelukku.

Tapi Allah ternyata punya rencana lain, yang jelas selalu baik dan tak akan pernah buruk. Karena Ia Allah Sang Maha Tahu,

Hari itu Jumat 15 Oktober 2021, aku kontrol USG ke dokter Anita. Dokter langgananku di klinik dekat rumah. Aku suka sama dokter ini, beliau sabar dan jawaban-jawaban nya sangat menenangkan untuk aku yang selalu over thinking ini.

“Alhamdulillah ya, ini berat badan ibunya turun. Tapi anaknya cepat sekali besar ya. Satu minggu aja udah naik 1kg, sekarang ini taksiran beratnya ada diangka 4,4 – 4,8 kg. Kita sesar ya hari Selasa besok, susah ini kalau dipaksa lahiran normal kasian ibu dan dedeknya.”

Tes-tes-tes, air mata itu pertama turun, “aku pengen lahiran per-vagina”. Ini adalah pertemuan paling nggak aku suka sama dokter Anita, aku kecewa dengarnya.

Aku nggak mau lahiran sesar, aku mau merasakan mulas kontraksi dan berjuang seperti ibu-ibu lain yang setiap hari kulihat videonya. Aku ingin sekali merasakan leganya bayi ini keluar dari jalan yang seharusnya, menurut aku.

Aku tidak langsung bilang iya. Aku Cuma bilang, “Kita pikirkan dulu ya Dok.”

Aku bersikeras untuk tetap melahirkan per-vagina, sambal membatin “Mama lahiran ardi 4,9 kg bisa kok nggak SC”.

Tapi suamiku terus meyakinkan, “Yang, paling penting buat aku kamu sama anak kita selamat, sehat.”

Malam itu juga aku ke tempat bidan gentle birth langgananku di Depok.

Di sana aku Kembali USG berharap Bu Bidan berkata, “Ini masih bisa kok buat lahiran “normal”.

Iya aku berharap besar sekali bu Jehan bilang begitu, tapi nyatanya.

“Ini sangat beresiko kalau kamu mau memaksakan per-vagina. Anaknya besar sekali dan sampai sekarang masih belum ada kontraksi. Di lihat dari hasil USG bahunya lebar. Yang paling dikhawatirkan adalah distosia bahu. Bahu bayi nyangkut di jalan lahir. Kalau sudah begini kita harus milih, ibu atau bayi. Akhirnya harapan kamu buat bisa gentle birth juga nggak akan sampai kan. Amit-amit malah kamu bisa trauma. Ini resikonya terlalu besar Bun.”

Pengalaman Lahiran SC Metode ERACS di RS Hermina Serpong

Bidan Jehan memegang tanganku dengan sangat lembut sambal berkata, “Dengan jalan lahir apapun, per-vagina atau pun SC kamu tetap akan jadi ibu yang hebat kok. Yang paling penting kamu nyaman dan bayi pun lahir sehat wal afiat. Kalau kamu memaksa pervagina lalu berakhir trauma, nggak jadi gentle birth juga donk. Gentle birth itu bukan berarti harus per-vagina kok.”

Panjang lebar Bidan Jehan menjelaskan dengan lembut buat meyakinkan aku, SC nggak apa kok selama itu pilihan yang terbaik dengan berbagai pertimbangan.

Akhirnya dengan air mata yang nggak berhenti mengalir aku pulang ke rumah sambil berusaha ikhlas buat SC.

Besok Sabtu aku balik ke dokter Anita, “Dok, aku mau SC deh. Nggak usah Selasa, besok minggu aja boleh?” Dalam batinku lebih cepat lebih baik.

“Nggak bisa saying kalua Minggu, kita jadwalkan di Senin pagi ya. Ini saya buatkan rujukan ke RS Hermina Serpong. Hari Minggu jam 7 malam kamu ke IGD Hermina dan tunjukkan surat rujukan dari saya. Sampai ketemu Senin pagi di ruang oprasi ya Bun.”

Oia, kita full cover BPJS ya.

……

Malam itu aku dan suami mulai packing. Dikarenakan masih dalam masa pandemi nggak ada yang boleh jenguk dan hanya boleh dijaga satu orang. Jadi, aku hanya ngabarin ke mama dan ibu kalua aku lahiran Senin pagi. Tapi nggak perlu dijenguk, pulang dari RS nanti aku ke Depok.

Pengalaman Lahiran SC Metode ERACS di RS Hermina Serpong

Minggu malam aku masuk IGD buat pemeriksaan sebelum masuk ruangan. Susternya datang dan menjelaskan, “Bun, setelah semua rangkaian pemeriksaan umum kita ada tambahan tes alergi ya. Kita rencana besok akan melakukan SC metode ERACS jadi perlu tambahan tes alergi ini.”

Kaget banget ini aku BPJS loh, yakin ini bakalan ERACS? Aneh banget ini RS. Dan pada zaman Oktober 2021 lalu ERACS masih barang langka. Masih sangat jarang RS yang menerapkan metode ini. Dan, Alhamdulillah-nya aku lolos tes alergi dan bisa lanjut SC ERACS besok pagi.

Ada beberapa perbedaan metode dari SC pada umumnya, dan part yang paling aku suka adalah kita nggak perlu puasa. Justru harus makan di jam-jam yang sudah ditentukan.

8 jam sebelum operasi masih boleh makan nasi lauk, ini aku dikasih menu makan lengkap. Dan jam 3 pagi, sekitar 6 jam sebelum operasi aku dibangunin buat makan roti. Abis ini kita udah nggak boleh makan lagi tapi masih boleh minum air mineral. Nah, pagi-pagi jam setengah 6 pagi, kira-kira 2 jam sebelum operasiaku dikasih fit mom drink, minuman berkalori tinggi tanpa serat, supaya tetap ada kalori untuk ibu dan bayinya, jadi ibu tidak kelaparan dan kehausan serta bayi tidak hipoglikemik. Karena diharapkan ibu cukup fit dan nyaman memasuki kamar operasi.

Abis minum fit mom drink ini, suamiku bantu aku mandi supaya segar dan cantik kan mau ketemu si ganteng di perut masa bau asem. Pokoknya di sini aku bener-bener berpikir semua hal-hal yang bikin aku happy. Jadi di metode melahirkan gentle birth juga diajari hypnotherapy salah satunya mikirin hal-hal yang positif pas kita mau lahiran.

Beneran pikiranku aku harus sisiran yang rapi dan wangi, saying aja nggak boleh make up an ya. Hhe.

Yang paling mengharukan berikutnya adalah momen aku mau masuk kamar operasi. Karena masih pandemi, jadi suami nggak dikasih masuk kamar OP Cuma aku dan bayi di perut aja. Pas akum au masak kamar OP suami aku peluk aku kenceng banget matanya berkaca-kaca. Sambil didoainnya ubun-ubunku. Aku merasa detik itu dia jauh lebih khawatir dari pada aku.

Aku masuk ruang OP dengan segala bayangan-bayangan baik, dengan semangat sebentar lagi aku bisa peluk anak aku. Aku coba atur nafas dan terus berfikir positif. Ternyata ikutan kelas nafas sangat berguna juga buat orang yang akhirnya SC kayak aku. Kalian pernah dengar suntikan anastesi di tulang belakang sakit banget kan? Aku coba terapin Teknik nafas dan aku hampir nggak berasa kalo ternyata udah selesai suntik. MasyaaAllah banget rasanya.

Dan di dalam ruang OP aku alhamdulillah sangat tenang dan full senyum.

Pengalaman Lahiran SC Metode ERACS di RS Hermina Serpong

Alhamdulillah operasi berjalan dengan sangat lancar, kulihat bayiku menangis sangat keras. Dia putih bersih, tampan, sangat gembul dan menggemaskan. Saat pertama melihat matanya tanpa sadar aku meneteskan air mata. Siapa Namanya Bun? Kata dokter sambil mendekatkan anak lelaki ini ke wajahku. Namanya Keenan dok, Keenan Alfarezi Khalid Arrasyad.

Pertemuan pertama itu tak pernah bisa aku gambarkan rasanya, magical.

…..

 

Selesai operasi Keenan lagsung dibawa keluar ketemu ayahnya untuk diazankan. Aku langsung dibawa ke ruang pemulihan. Yang membedakan ERACS dengan SC biasa di step ini juga nih. Aku langsung diminta belajar miring kanan kiri, angkat kaki, duduk dan belajar berdiri. Aku nggak akan dibawa ke ruang ranap kalua belum bisa berdiri. Dan, aku juga nggak boleh sampai tertidur habis operasi. Aku langsung dikasih minum dan disuruh mengunyah permen karet. Alhamdulillah nggak sampai 2 jam di ruang pemulihan aku udah bisa berdiri dan ganti baju dibantu suster.

Aku langsung dibawa ke ruang ranap dengan kursi roda, aku lihat suamiku udah nunggu di bangku depan. Ku lihat wajah lega-nya pas ketemu aku di situ.

Alhamdulillah aku nggak mual atau apa, Cuma laper aja. Iya lah laper bgt loh rasanya. Dan selesai SC aku melihat kakiku dengan takjub. Ini kaki kok bisa tiba-tiba ikutan kempes kayak perut.

Metode ERACS ini emang cepet banget pemulihannya, 6 jam pasca operasi kateter aku langsung dicabut dan aku udah bisa bolak-balik kamar mandi dan jalan pelan-pelan. Hari Senin pagi aku SC, Selasa malem aku udh boleh pulang sama Keenan di gendongan so happy.

Oia, mau info juga selama aku di RS aku benar-benar nggak keluar uang sepeser pun. Bahkan biaya bayi juga nggak ada ya. Jadi, waktu aku lagi OP suamiku turun ke kasir buat urus BPJS Keenan. Begitu lahir, Keenan udah dicover BPJS. Alhasil lahiran Keenan biayanya beneran 0 rupiah. Dan pelayan RS tetap sangat baik kok, nggak ada dibedain atau apa. Aku tetap dapat kamar kelas 1 dan tetap dapat perawatan yang sangat maksimal.

Setelah semua beres, kita bertiga naik GRAB ke rumah mama di Depok. Dan di sana kita disambut dengan sangat gembira. Itu adalah hari yang menakjubkan.

Pengalaman Lahiran SC Metode ERACS di RS Hermina Serpong

Sekarang anaknya sudah besar, Oktober 2023 nanti Keenan umur 2. Doakan Keenan tumbuh jadi anak yang soleh, pintar, sehat walafiat, tampan dan baik budi pekertinya ya om-tante. Terimakasih sudah mau membaca cerita yang sangat panjang ini.

 

 

 

 

10 thoughts on “Pengalaman Lahiran SC Metode ERACS di RS Hermina Serpong

  1. di bagian awal aku tidak setuju dengan orang-orang yang bilang lebay atau kebanyakan drama. Menurutku itu merupakan sebuah pengalaman tersendiri yang masing-masing orang tidak akan melewati hal yang sama. Apalagi proses persalinan yang akan menjadi cerita, pengalaman, dan kenangan tersendiri bagi seorang ibu. Tidak hanya itu, meskipun yang melakukan persalinan adalah istrinya, seorang suami atau calon ayah pun pasti memiliki kenangan tersendiri tentang persalinan atau kelahiran anak-anaknya.

    Selamat beeertumbuh dan berkembang yaa dek keenan 🙂

  2. Setuju, mau SC atau normal, Ibu tetaplah Ibu. Ya walaupun awalnya sedih dan kecewa, tapi keselamatan Ibu dan anak lebihlah penting. Cepet banget Keenan udah mau 2 tahun aja, belum pernah meet up kita

    1. alhamdulillah yaaa ti, rasanya seneng banget pasti akhirnya, dikasih rejeki anak, pas Baca prosesi ruang SC aku pun netes huhu. Semoga bisa segera merasakan momen “magical” itu :”)

  3. Wow 6 jam sudah bisa bolak balik… Baru denger metode ini. Makin menarik karena betul2 gak bayar tambahan apa2 ya…

  4. Wahhh lagi-lagi selamat ya, Mba, semua orang punya ceritanya masing-masing, dan terima kasih sudah berbagi pengalaman menarik ini, sehat terus mba dan keluarga ya, khususnya Keenan, semoga kelak menjadi anak yang Sholeh dan sayang mama papanya.

  5. Alhamdulillah… setuju banget Allah itu sebaik2 pengatur rencana. Apapun ketetapanNya adalah yg terbaik.

    seneng deh baca tulisannya… semoga Ibun sekeluarga selalu sehat dan dilimpahi keberkahan…

  6. Ahhh terharu sekaligus bahagia banget bacanya. Selamat ya Titi sayang, kamu sungguh hebat dan beruntung sekali bisa merasakan itu semua, sudah bisa menjadi seorang ibu, sudah bisa merasa dan merasakan menjadi perempuan seutuhnya. Semua ibu, semua perempuan hebat, kuat juga tangguh, tidak peduli mereka melahirkan melalui metode apa.
    Metode SC ERACS mmg terbilang baru dan nampaknya bagus sekali ya.
    Sehat2 ya untuk si ganteng, semua do’a dan harapan terbaik ditujukan untuknya, untuk ibunya, juga bapaknya. Berkah semua amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *