Teruntuk Suamiku, Maaf Aku Masih Mencintai Dia

Teruntuk Suamiku, Maaf Aku Masih Mencintai Dia

Yang pertama adalah yang tak terlupa, pertama mengenggam jemari, pertama mengecup keningku. Dia juga yang pertama tangannya ku cium sebelum kamu Abang. Maaf, bahkan setelah hari akad itu tiba di mana aku berjanji untuk patuh dan berbakti kepadamu, aku masih belum bisa menghilangkan cinta ini.

Abang, aku jatuh cinta yang pertama dengan beliau, yang usianya terpaut sangat jauh dariku. Dari 29 tahun yang lalu, jauh sebelum kita berjumpa apalagi berjabat di Maret lalu. Maaf, aku masih belum bisa melupakan dia, maaf juga dia masih istimewa di hatiku.

Aku berharap Abang bisa mencintai dia seperti aku mencintainya. Tangannya kekar seperti tanganmu Bang, bahunya kuat sama seperti punyamu, punggungnya nyaman persis sepertimu. Abang, aku masih akan terus mencintai dan mengasihinya sampai berapa juga jumlah anak cucu kita nanti.

Dia terlalu sulit untuk dilupakan dan terlalu manis jika hanya untuk dikenang. Aku sekarang milikmu, cinta terakhirku berhenti di kamu, tapi yang pertama akan tetap jadi miliknya, Bang.

teruntuk suamiku

Sekarang wajah garang miliknya itu mulai memudar, garis kerut mulai nampak begitu jelas, tapi aku akan tetap mencintainya. Dia, cinta pertama anak perempuannya, Papa. Papa adalah yang paling tahu cara membuatku berhenti menangis. Papa juga yang akan sangat marah melihatku meneteskan air mata, karena siapapun, jadi jangan lakukan itu ya, Bang.

Suamiku, kamu yang nomer satu di hatiku sekarang, tapi Papa masih jadi yang pertama tak terganti. Kau tahu, sebelum terbangun setiap pagi melihat wajahmu, aku terbiasa terbangun dan melihat wajahnya yang sumringah. Kau tahu? Dia sangat menyayangiku lebih dari apapun di dunia, sayangi aku seperti dia ya, Bang.

Aku tak pernah melihat beliau menyerah, Papa selalu tahu cara merubah kelabu jadi cerah. Abang, aku tak pernah mau membandingkan kamu dengan Papa, kalian pasti berbeda. Aku akan menempatkan Papa di tempat cinta yang pertama dan kamu di tempat cinta yang terakhir.

teruntuk suamiku

Abang, terima kasih sudah dengan berani menjabat tangan beliau dan mengucap janji di hadapan Allah SWT untuk memikul tanggung jawab atas aku. Cinta pertamaku hari itu menangis, putri kecilnya menjadi hak lelaki lain, beliau ikhlas tapi aku masih bisa melihat perih di mata itu.

teruntuk suamiku

Abang, jaga aku seperti cinta pertamaku menjagaku ya. Dia bukan tak pernah marah, tapi dia tak pernah sekali saja menyerah. Dia menjagaku dengan sepenuh cinta, jiwa dan raganya. Papa adalah yang paling marah kalau aku lalai dalam ibadah, Abang juga harus begitu ya.

Suamiku, Papa selamanya jadi cinta pertamaku, jangan pernah cemburu apalagi marah ya. Kau tau bagaimana dia berkorban untukku? Semua pengorbanan yang beliau lakukan sangat pantas untuk membuatku tak bisa melupakannya. Papa adalah anugrah dari Allah yang tak pernah mau kutukar dengan apapun dan siapa pun. Rahangnya keras, suaranya apalagi, tapi hatinya lebih lembut dari kain sutra sekalipun.

Papa adalah yang setia menatapku dengan bangga saat aku mengusahakan prestasi sekecil apapun. Papa adalah yang pertama mengumumkan kepada dunia saat aku pertama mendapat peringkat di kelas. Papa adalah yang air matanya menetes saat aku maju ke depan di wisuda beberapa tahun lalu. Papa juga yang pertama mencari tahu siapa kamu, saat aku terlihat naksir Abang.

Abang sayang, Titi sayang dan cinta sekali sama Abang, tapi Titi juga masih sayang dan cinta sekali sama Papa. Beliau adalah yang 29 tahun ini paling khawatir kalau Titi nggak ada kabar ke mama. Papa juga yang paling mikirin, kalau Titi nggak sengaja terdengar mengeluh tentang hidup.

Titi besar dan tumbuh dengan didikan tangan dinginnya, beliau yang mengajarkan tentang hidup harus hati-hati tapi tak pernah boleh jadi kikir. Papa yang pertama memperlihatkan ke Titi bahwa dunia ini indah, tapi juga tak bebas dari bahaya. Papa yang mengajarkan untuk melangkah dengan pasti tapi tetap harus dihitung.

Abang tahu siapa yang menjadikan Titi seperti sekarang ini? Benar, Papa adalah dalang dari Titi yang Abang lihat hari ini. Perempuan tapi keras kepalanya melebihi karang. Titi yang kadang lupa caranya menangis, ini juga karena Papa yang selalu mengingatkan masalah tak akan selesai hanya dengan air mata.

Cinta pertamaku begitu hebat, kuat dan mengagumkan. Tapi tenang, Abang buat Titi juga tetap yang terhebat kok, makanya Titi jawab iya dengan mantap waktu Abang mengajak berkomitmen di hadap Allah SWT. Titi harap abang mencintai Papa, cinta pertamaku seperti Titi mencintai Papa.

Titi harap Abang bisa paham dan maklum, kalau Titi masih mengagumi laki-laki ini. Semoga Abang paham kalau Titi memilih untuk tidak lupa dengan cinta pertama ini. Semoga abang juga mampu mencintai cinta pertama Titi ini.

teruntuk suamiku

Titi sayang kalian, cinta pertama dan terakhirku, papaku dan suamiku.

3 thoughts on “Teruntuk Suamiku, Maaf Aku Masih Mencintai Dia

  1. Duhh merinding gue bacanya…lihat foto awal aku langsung mewek. Kayaknya ini impian semua wanita dehh, didampingi bapaknya menuju cinta sejatinya. Iri gue. Tapi aku doain yang terbaik buat kalian. Sehat selalu orang2 titi dan semua cintamu ya.

  2. Gw belum mengucapkan selamat ya ke Titi.

    Baarakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khayrin

    “Semoga Allah memberikan keberkahan padamu dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”

    InsyaAllah Happy until Jannah ya.
    Sehidup sesurga.

    Sedih ya ti, baktinya berpindah, kudu minta redho suami bahkan hanya buat ketemu Bapak.

    Titi hebat. !!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *